Minggu, 05 Mei 2013

ALLAH TRITUNGGAL

Didahului:
1. Mengimani Konsep Penebusan Dosa yang berkenan di mata Allah, di http://hsh-kristen.blogspot.com/2013/04/mengapa-yesus-di-salib.html,

2. Pengharapan Kedatangan Yesus/Mesias dan sebagai Pengakhiran Hukum Taurat, di http://hsh-kristen.blogspot.com/2013/04/keberakhiran-taurat.html,

3. Kasih (Allah) yang mau turun menebus dosa Manusia,
di http://hsh-kristen.blogspot.com/2013/04/alllah-adalah-penebus.html,

4. Memahami Bagaimana Inkarnasi Allah, di http://hsh-kristen.blogspot.com/2013/04/allah-menjadi-manusia.html

5. Allah Itu Esa dalam Ketritunggalan-Nya, di http://hsh-kristen.blogspot.com/2013/04/allah-tritunggal-yang-maha-kudus.html

Sudahkah Anda membaca kelima thread di atas? Anda mungkin hanya akan memahami tulisan di bawah ini bila telah membaca kelimanya, karena thread kali ini adalah Seri Tambahan dan bagian terakhir dari tema "ALLAH TRITUNGGAL".

PENTING DIKETAHUI!!! Tulisan kali ini, bukan untuk mengajak perdebatan, melainkan sebagai penambahan wawasan untuk semua orang.

Bahasan kali ini akan berbicara dengan mengambil sudut pandang menurut Alquran, kitab suci umat Muslim. Di mana kita akan mencoba sedikit memperbaiki kekeliruan yang terlanjur diterima oleh orang-orang Islam.

Dalam agama Islam, hanya mengenal keesaan Allah dalam satu "wujud" saja, berbeda dengan kekristenan yang melihat wujud Allah yang begitu kompleks dan nyata keberadaan-Nya ada di mana saja.

Alquran sejatinya tidak mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan atau anak Tuhan,

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

* Q.S Al-Maidah 175,

Al Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).”

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

* Q.S Al-Maidah 72,

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun."

Dan Alquran juga tidak mengimani "Tuhan yang berkeluarga", dalam hal ini mereka tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah,

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

* Q.S Al-Baqarah 116-117,

Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia."

Walau pun sebenarnya, kata Anak dalam keimanan Kristen hanya bermakna alegoris, bukan bermakna yang sebenarnya (bukan secara biologis).

Alquran yang dipercayai ditulis langsung oleh Allah SWT ini nampaknya memiliki beberapa kekeliruan, seperti halnya di atas. Keliru memahami arti "anak".

Bukan hanya itu, ALQURAN pun keliru memahami siapa-siapa figur yang ada dalam Ketrinitiasan Kristiani,

* Q.S Al-Maidah 116-117,

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)-nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu." 

Di atas, Allah SWT bertanya kepada nabi Isa, apakah Ia yang mengajarkan manusia untuk menyembah Dia dan Ibu-Nya, Maria?

Sontak saja, Yesus Kristus membela diri dan bahkan "menegur" Allah bahwa segala yang Ia lakukan pastilah diketahui sepenuhnya oleh Allah SWT.

Di sini kita bisa menyimpulkan, bahwa Ketritunggalan versi Alquran, bukanlah Ketritunggalan versi Kristenitas, sebab kekristenan tidak pernah mengajarkan bahwa Tritunggal itu: Allah dan Yesus Kristus dan Maria.

Konsep Trinitias versi Alquran begitu ngaco! (QS. 5:116) Karena, Maria bukanlah salah satu oknum Tritunggal. Memang sih ada beberapa golongan Kristen yang menuhankan Maria, seperti Kristen Orthodox, (yang jelas-jelas salah).

Alquran hendak mengkritik konsep-konsep yang dikandung oleh umat Kristiani, namun sayang sekali konsep yang dimaksud bukanlah konsep Kristiani, paling tidak Alquran sedikit meleset dalam memberi kritikan. Atau hanya mengkritiki saja mereka yang menuhankan Maria, ini jelas tidak ada kaitannya dengan Kekristenan.

Jadi, pantaskah kita tersinggung dengan kritikan ini?

Selain keliru memahami oknum Allah Tritunggal. Alquran sekali lagi keliru memahami bagaimana Tritunggal itu. Dalam Almaidah 73 misalnya, mengatakan bahwa Allah bukanlah salah satu dari tiga (potiheisme), padahal jelas sekali Ketrinitiasan adalah monotheisme. Kekristenan tidak mempercayai adanya Allah lain, kami hanya mempercayai bahwa Allah itu memiliki wujud yang kompleks seperti yang telah dijelaskan pada seri-seri sebelumnya.

* Almaidah 73,
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ

Terjemahan Kemenag,

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga".

Terjemahan Mohammed Marmaduke Pickthall,
"They surely disbelieve who say: Lo! Allah is the third of three; when there is no God save the One God. If they desist not from so saying a painful doom will fall on those of them who disbelieve."

Terjemahan Abdullah Yusuf Ali (AYAT 76!!!),

"They do blaspheme who say: God is one of three in a Trinity: for there is no god except One God. If they desist not from their word (of blasphemy), verily a grievous penalty will befall the blasphemers among them."

Tanya: Mengapa ada perbedaan nomor ayat di sini? Yusuf Ali menulis ayat 76 sedangkan terjemahan lain menulis ayat 73.

Tentang Terjemahan, Mohammed Picktall telah menterjemahkan teks Qur'an tersebut dengan makna aslinya. Namun Qur'an terjemahan Yusuf Ali sengaja membuat "kekeliruan" terhadap Qur'an demi mau dicocok-cocokan dengan trinitas pengertian Kristiani (yang monoteis), sehingga Ali sengaja berkorban demi mengkompromikan terjemahan Surat tersebut secara keluar jalur, menjadi berbunyi:

"Sungguh kafirlah orang-orang yang berkata 'bahwa Allah adalah salah satu dari tiga dalam satu TRINITIAS' (God is one of three in a Trinity)"

Jelas kata-kata "dalam satu Trinitas" tidak pernah ada dalam teks Arab. Tetapi Ali sengaja menaruh kata tersebut dalam terjemahannya dalam usahanya untuk menghindari ketidak-cocokan nats Qur'an yang terlanjur men-cap umat Kristiani itu politeistis, mengimani 3 Tuhan!

Ali tahu bahwa Kristianitas hanya mengimani satu Tuhan Trinitas, yaitu Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Tetapi Ali pun sangat tahu bahwa Qur'an memunculkan 3 oknum yang tidak sama dengan apa yang diketahuinya, dan ini agaknya merepotkan dirinya dalam dilema yang tidak terserasikan.

Qur'an tidak hanya salah dalam menyebut "siapa-siapa oknum Tritunggal" itu, ia juga salah memahami definisi Trinitias yang bukanlah politheis, agama Kristen jelas mengakui Ketritunggalan itu sebagai Allah Yang Esa. Dan perlu dicatat, bahwa penyangkalan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan anak Tuhan bukanlah produk baru (bukan dimulai oleh kaum Muslim dulu), melainkan hal penyangkalan ini juga merupakan keyakinan dari orang-orang Yahudi yang menyangkal: Kemesiasan, Kenabian, Ketuhanan, Keanakan dari Yesus Kristus.

“Nubuat Adikodrati” Ke Depan VS “Jejak KAKI” KEBELAKANG

* QS. 4:157,

Transliteration,

Waqawlihim inna qatalnaalmaseeha AAeesa ibna maryama rasoola Allahiwama qataloohu wama salaboohu walakinshubbiha lahum wa-inna allatheena ikhtalafoo feehi lafeeshakkin minhu ma lahum bihi min AAilmin illa ittibaAAaaththanni wama qataloohu yaqeena

Sahih International,
And [for] their saying, "Indeed, we have killed the Messiah, Jesus, the son of Mary, the messenger of Allah ." And they did not kill him, nor did they crucify him; but [another] was made to resemble him to them. And indeed, those who differ over it are in doubt about it. They have no knowledge of it except the following of assumption. And they did not kill him, for certain.

Pickthall,
And because of their saying: We slew the Messiah, Jesus son of Mary, Allah's messenger - they slew him not nor crucified him, but it appeared so unto them; and lo! those who disagree concerning it are in doubt thereof; they have no knowledge thereof save pursuit of a conjecture; they slew him not for certain.

Yusuf Ali,
That they said (in boast), "We killed Christ Jesus the son of Mary, the Messenger of Allah";- but they killed him not, nor crucified him, but so it was made to appear to them, and those who differ therein are full of doubts, with no (certain) knowledge, but only conjecture to follow, for of a surety they killed him not:-

Indonesian,
dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. 

Ucapan nubuat yang tercatat, sekali ia digenapi, adalah merupakan bukti adi-kodrati yang paling kokoh yang harus dipercaya. Nubuat-dan bukan mujizat-merupakan testing yang paling absah akan kebenaran suatu wahyu! Kenapa? Karena sekalipun nabi-nabi palsu bisa bermujizat ala kadar, namun tak ada satu makhluk pun yang tahu masa depan, apalagi mengontrol sejarah untuk memenuhi apa yang ia sudah ucapkan! Nasibnya, masa depan hanya ada ditangan Tuhan! Itu sebabnya Tuhan sendiri menantang tuhan-tuhan selainnya untuk membuktikan ”keilahian dirinya” dengan cara bernubuat:

”Siapakah seperti Aku? Biarlah ia menyerukannya, biarlah ia memberitahukannya dan membentangkannya kepada-Ku! Siapakah yang mengabarkan dari dahulu kala hal-hal yang akan datang? Apa yang akan tiba, biarlah mereka memberitahukannya kepada kami!” (Yesaya 44:7)

”maka aku memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal itu menjadi kenyataan, Aku mengabarkannya kepadamu, supaya jangan engkau berkata: Berhalaku yang melakukannya, patung pahatanku dan patung tuanganku yang memerintahkannya.” (Yesaya 48:5)

Namun untuk hal yang sepenting ini bagi suatu kebenaran, Muslim malah membiasakan dirinya acuh dan asing terhadap nubuat. Quran praktis tidak berisi nubuat adikodrati ke depan, melainkan sebaliknya banyak didominasi dengan pengungkapan kisah-kisah masa silam. Sebagai contoh saja, ayat yang diperbincangkan di sini, QS 4:157, adalah tipikal kisah pewahyuan ke masa silam yang terlambat munculnya, bukan nubuat ke depan yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta masa depan.

Bagi kebanyakan Muslim, ayat di atas dianggap sebagai ”wahyu koreksi” terhadap kasus penyaliban Isa yang terlanjur diterima secara keliru. Namun teman Muslim sering lupa bahwa sangkaan ”keliru” itu justru pertama-tama harus diusutkan kepada ”kelirunya” Allah sendiri dalam bertindak di abad pertama. Bukankah Allah dengan sengaja menipu-daya umat yang menyaksikan penyaliban Isa?! Dan Allah jugalah yang mengkelirukan Isa dengan seorang Isa gadungan, bagi umat israel?

Mari kita saksikan apakah ”pengkoreksian” demikian itu kokoh sebagai hukum pengkoreksi tuhan ataukah hanya sebuah klaim yang justru perlu ”ditafsir-ulang”.

1). Absennya Novum

Anda tidak akan memprotes suatu kasus yang telah berlalu 6 abad tanpa menyodorkan bukti-bukti novum yang kuat dan absah (bukti silam yang baru ditemukan). Jadi ”wahyu-koreksi” atas penyaliban/kematian masa silam Isa, haruslah disertai dengan novum yang dapat menafikan penyaliban, dan bukan dibenarkan dengan mengajukan klaim atau asumsi baru. Bila Anda tidak percaya akan nubuat yang tidak tergenapi ke depannya, bagaimana mungkin Anda malah percaya akan wahyu koreksi silam yang tanpa novum ini (padahal kasus yang sudah lewat selalu ada jejak bukti)?

2). Siapakah sosok Isa-Isaan yang diklaim Quran?

Sebab bilamana Allah begitu perlu untuk menegaskan bahwa sosok itu BUKAN Isa, maka Allah setidaknya perlu (dan tentunya mudah) menegaskan SIAPA sosok penggantiNya! Keabsahan satu koin tidak dibentuk oleh satu sisi saja. Mengkoreksi sosok si-asli yang pergi (non-exist) terhadap si gadungan yang tertinggal (exist) itu bukanlah sebuah koreksi jikalau yang eksis itu justru tidak ditampilkan sebagai bukti, malahan juga turut dikosongkan. Apa yang mau dikoreksi kalau kedua obyek yang dipersoalkan itu justru dikosongkan?

3). Memulihkan suasana keraguan, atau menambahinya?

Suasana yang digambarkan dalam satu ayat Quran itu melebihi kekacauan manapun yang pernah diwahyukan. Lihat betapa bertubi-tubinya kata-kata kekacauan yang dilontarkan ke situ: ”...berselisih paham......benar-benar dalam keragu-raguan...tidak mempunyai keyakinan....persangkaan belaka....tidak (pula) yakin...”

Sangat jelas Allah lewat ayat korektif ini bermaksud untuk memulihkan segala kekacauan ini. Namun dengan metode pengkoreksian Allah yang aneh (6 abad terlambat, ketiadaan jati-diri, sosok tipu-daya), maka Allah sebenarnya tidak menipisi, melainkan mempertebal keraguan dan perselisihan yang ingin disingkirkan. Keraguan dapat ditepis dengan menambahi bukti, bukan dengan ”pengkoreksian” yang malah menambahi misteri.

4). Dan siapa saksi-saksi-nya?

Siapa selain Allah yang dapat diajukan sebagai saksi atas permainan petak-umpet ini? Jibril? Maryam? Yahya? Serdadu Romawi yang mengeksekusi? Isa sendiri? Tidak ada di kitab! Bila sebelumnya ada tercium tipu-daya ini. Isa bahkan akan memprotes kepada Allah. Karena hal itu melawan kodratnya yang kudus, selalu berkata benar. Kudus itu tidak mau dan tidak bisa bertipu-daya atau membiarkan dirinya menjadi bagian dan ajang dari tipu-daya. Alkitab sama mengatakan, ”Ia (Yesus) tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulutnya” (QS 19:19,34; Yohanes 8:46; 1 Petrus2:22).

Yohanes 8:46 Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamutidak percaya kepada-Ku?

1 Petrus 2:22 ”Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya”.

Jadi, apa dan siapa yang telah dibuktikan dan dimantapkan oleh ayat pengkoreksi yang satu ini? Atau apakah pembuktian korektif model ini dapat dijadikan jurisprudensi untuk mengoreksi suatu perselisihan?

MUSTAHIL ADA WAHYU TUHAN YANG BOLEH KADALUARSA

Pewahyuan silam ini, telah menempatkan murid-murid Isa, ibuNya, dll semua menjadi korban, tertipu daya oleh cara Allah SWT mempergantikan Isa dengan seseorang yang diserupakanNya secara tersembunyi. Ketertipuan ini terus berjalan hingga diungkapkan oleh Muhammad (lihat rujukan QS 3:54).

Pertanyaan kita yang paling elementer: ”Kenapa Allah baru merasa perlu mengkoreksidi abad ke-7 untuk sebuah kasus besar dari abad ke-1?” Kenapa kadaluarsa selama 6 abad? Membiarkan bermilyar manusia mati dalam kesesatannya yang terlanjur ”menjunjung salib Yesus,” karena belum sempat dikoreksi Allah? Salahkah ibu Maria, murid-murid Yesus, dan bermilyar pengikutNya, jikalau mereka semua telah mengimani penglihatan yang ”salah”, karena mata mereka telah disesatkan oleh pembalasan tipu-daya Allah sendiri?

Cara pembalasan Tuhan terhadap si penipu dengan menipu balik si penipu itu, sungguh tidak dikenal dalam Alkitab. Namun hal itu, diadopsi menjadi bagian yang diwahyukan Quran, sehingga para penterjemah terkesan agak rikuh dalam memilih dan memakai pelbagai istilah dan gaya yang saling berbeda untuk menterjemahkan ”khairul maakiriin,” dalam kedua ayat berikut ini (perhatikan teks bahasa aslinya).

”Dan mereka itu membuat tipu daya, Allah membalas tipu daya mereka, dan Allah sebaik-baik (pembalas) tipu daya” (and Allah is the best of schemers, Moh. Pickthall)

”Mereka membuat tipu daya, tetapi Allah (juga) membuat tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembuat tipu daya.” (and Allah is the best of plotters QS3:54; 8:30).

Dalam paham Kristianitas, manusia menipu-daya karena hakekatnya jahat dan sumber dayanya terbatas. Namun Tuhan yang berhakekat Mahakudus dan tidak terbatas sumber dayaNya tidak harus terpaksa—bahkan tidak bisa—membalas tipu dengan tipu, apapun kondisi dan alasannya! Teroris bisa menyandera dan membunuh keluarganya polisi dengan golok, namun polisi tidak bisa membalas membunuh keluarga si teroris, apalagi dengan meriam yang menghancurkan pula tetangga, lalu berkata: “Rasain lu, saya lebih canggih membunuh kalian, kan?.”

Kristianitas mengimani Tuhan yang dapat melawan dan menghukum siapa dan apa saja dengan cara yang tak terbayangkan manusia, namun tidak dapat melawa nhakekat diriNya yang “tidak berdusta dan tidak mungkin berdusta.” Dan “Tuhan tidak dapat menyangkal diriNya” (Titus 1:2, Ibrani 6:18; 2Timotius 2:13).

Tuhan tidak bisa terang-terangan membela dan memberi kehormatan kepada Isa setinggi-tingginya—dengan menghancurkan palang salib—sambil mencangking dan menghajar semua musuhNya untuk berlutut di depan kaki Isa! Namun Kuasa Kebenaran, dan Wibawa KehormatanNya memustahilkan Dia secara sembunyi-sembunyi memilih menipudaya semua orang sambil membiarkan diriNya dipaksa manusia bejad untuk menghentikan masa dakwah nabiNya (Isa) secara prematur. Dengan dilenyapkannya Isa disitu dan tamat riwayatnya entah bagaimana, bukankah sia-sia seluruh prestasi kenabiannya?

Dan tamat pula seluruh kepercayaan murid-muridNya akan kehebatan dan janji-janji Gurunya. Melainkan menyisakan tercerai-berainya mereka dalam rasa ketakutan, tidak mampu, dan percuma menginjili, karena toh sang Guru sendiri sudah dikalahkan (lihat akhir dari pasal ini).

Kebanyakan Muslim tidak mencoba untuk memahami bahwa sedari dahulu, Tuhan semesta alam selalu merujuk kepada satu formula penyelamatan manusia, yaitu hidup melalui kematian. Dan kematian Yesus itu mengalahkan MAUT bagi umatNya!

Dulu harga kematian disimbolkan oleh korban sembelihan anak domba; dan kini digenapi oleh pengorbanan Anak Domba Tuhan dalam penyaliban Yesus. Apabila kematian-kurban dari Yesus ini ingin “dibela” dengan cara dihilangkan, maka Ia justru akan kehilangan segala-galanya!

(1). Hilang lenyap Diri Isa, dari murid-murid yang dikasihiNya. Dilenyapkan Tuhan entah kemana, tanpa pra-berita, tanpa pamit, tanpa saksi, tidak terjejaki. Meninggalkan penginjilan secara prematur sebelum berbuah (lihat butir 3).

(2). Hilang lenyap Kalimat Isa, Injil dan ajaran Isa tidak terjaga di dunia, padahal terjaga disisi Allah dan tergores kekal di Lauhul Mahfuz di surga. Injil Isa Islami dibiarkan hilang lenyap dari dunia entah kemana, tidak terjejaki, sehingga Cuma Injil Palsu karya Paulus cs –lah yang tertinggal dan kini tersebar ke seluruh pelosok bumi dalam 1000-an bahasa di dunia.

(3). Hilang lenyap Misi Isa bersama dengan semua murid-murid awal Isa (hawariyyin, para pengikut beriman), Mereka tidak terjaga, terdesak kalah dan hilang semua, disapu oleh murid-murid Paulus dengan ajaran sesatnya yang terus berjaya hingga kini. Padahal Quran menjanjikan kemenangan bagi murid-murid Isa (QS 61:14);

“...Pengikut (Isa) yang setia itu berkata: ’Kamilah penolong-penolong agama Allah...maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang’ ”.

Tetapi dimanakah Injil Isa dan para pengikut Isa (Islami) yang menang itu sekarang? HILANG! Hilang segala-galanya disapu habis oleh kuasa nabi-nabi palsu yang dapat melebihi Isa! Total kesia-siaan Isa ini adalah konsekuensi sebab-akibat yang keras sekali, Muslim menolak kematian-kurban Yesus Al-Masih di kayu salib! Muslim tahu bahwa Isa adalah sosok yang digelar “Yang Terkemuka di dunia dan di akhirat” dan “Tanda yang Besar bagi Semesta Alam”.

Ketika Malaikat berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat dari pada-Nya namanya Al masih Isa Putra Maryam. Seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang yang terdekat dengan Tuhan". Qs. 3:45

Tidak ada komentar:

Posting Komentar